Wednesday, February 20, 2019

“SEUTAS PESAN UNTUK PENGHIRUP UDARA”



-selamat atas perkenalannya lalu dengarkanlah pesanku untukmu
Sang penghirup udara-
            “Mas daniel, apakah kutipan ini asli karya mas daniel atau masih ada sangkut pautnya dengan anak itu?”
“Tidak, ini hanya rekaan saya, saya ingin membumbuinya agar ada yang membacanya begitu juga dengan judulnya”
“Terimakasih mas daniel atas jawabannya. Baiklah, para journalis, wartawan serta teman-teman penulis dan komunitas-komunitas yang disini tadi adalah pertanyaan terakhir sekaligus menutup acara siang ini, terimakasih kehadirannya untuk yang ingin berfoto kami persilahkan namun dengan cara bergiliran dan untuk yang ingin memperoleh tanda tangan silahkan berkumpul di ruang sebelah kiri saya. Terimaksih banyak dan salam literasi negeri”
Acara spektakuler kelima yang telah didatangi daniel setelah launching terbitan buku barunya, setelah acara selesai ia mulai bergegas pergi. Ia berkunjung ke tempat peristirahatan seseorang sambil tersenyum karena melihat tempat itu sudah ramai.
.....
            Jalan Muara Baru Raya memiliki banyak kisah yang tak ada hentinya menjadi situs miris untuk didengarkan. Sebuah perkampungan di bawah jembatan yang memiliki puluhan kepala keluarga yang di kategorikan sebagai keluarga tidak mampu. Distulah tempat dimana Ali dilahirkan, seorang anak lelaki yang tergolong pintar di kampungnya, seorang anak yang menginginkan sekolah tinggi namun terbengkalai oleh keuangan. Kegiatan sehari-harinya adalah serabutan, terkadang dia menjadi pedagang koran, asongan, mengamen, pemulung. Semua itu dilakukan untuk menghidupi dirinya sebagai lelaki satu-satunya yang berada di rumahnya.
“Ali, kamu meninggalkan catatanmu”
“oh, iya  Doni makasih. Buku ini Sangat berarti bagiku” buku berwarna kusam hadiah terakhir dari ayahnya, masih terlihat jelas bagaiamana klise cerita itu terbentuk di bayang-bayang matanya. Hingga kini Ali menyimpannya dengan rapi dan mempergunakannya sebagai diary hariannya, tentang sebuah tanya yang kerap menghantuinya.
Pagi mulai menyerngit pelipis pada sebagian orang yang mencari asupan nasi, gemulainya juga membekas pada Ali sang Anak lelaki yang berumuran 18 tahun, baju hitam bercorak coklat sedikit kusam telah membungkus tubuh kurusnya, jika seperti itu tandanya ia telah siap bertarung melawan siang.
“mak, ali berangkat dulu (sambil mengambil beberapa koran dan minuman karena memang setiap pagi pada hari kamis ini tugasnya adalah menjual koran dan minuman)”
 “iya, li hati-hati, nak nanti jangan terlalu sore kamu harus sekolah”
 “ iya mak, assalmualaikum”
“waalaikumsalam”.
 Alipun melangkahkan kakinya keluar gubuk tua itu, lambai demi lambai tangannya melukiskan setiap kisahnya. Ali menuju setiap lampu merah ia menawarkan koran dan minumannya pada setiap kendaraan yang berhenti di depannya. Lelah, mungkin itu yang melukiskan deraian keringat yang terus menembus pakaiannya, ia melaju semakin lambat namun senyumnya membuat semua orang menyangka dirinya sedang bahagia. Pukul 12 siang Detik ke 30 jam berdering sangat kuat tak biasanya, kaki ali berada di garis zebracross lalu suara dengum mengumpulkan banyak kepala di sekelilingnya, lumuran darah kini menyelimuti badan kecil yang amat kelelahan, orang-orang mulai panik kebingungan lalu seorang pemuda berkacamata mulai menggendong ali ke mobilnya dan membawanya ke gedung putih, kita mengenalnya dengan nama rumah sakit.
 “atas nama siapa pak?”
 “e... saya gak tau sus, emm... pakai nama saja ya sus, saya daniel”
“oh baik pak, silahkan membayar registasinya nanti akan ditangani oleh dokter krisna”
 “ini atm saya, saya minta berikan penanganan yang khusus, saya akan tanggung semuanya.” “baik pak, silahkan menunggu”  menit ke 30 ruangan pemeriksaan ali masih tertutup, doa beribu doa dilantunkan daniel, serambi menunggu daniel mencari tau identitas ali di tas hitam yang bolong-bolong, dia membaca semua buku tulisan ali, kini hatinya bergumam... pintar sekali anak ini, setelahnya daniel melihat buku kusam dengan coretan yang hampir memenuhi setiap lembar buku itu, perlahan-lahan daniel membacanya. Di lembar keempat buku harian ali membuatnya tersenyum,
~ Pagi ini dunia kembali membuatku bertanya tentang siapa yang membuat aturan dan siapa yang melanggarnya, kakiku berhenti pada sebuah gedung yang kerap membuatku takut masuk kedalamnya karena tempat itu terkahir kali bapak menghembus nafasnya, namun kali ini berbeda, aku melihat lelaki tua yang memakai jas putih duduk santai di tepi parkiran, ia menghisap ujung putung rokok detik demi detik, lelaki itu masih jelas di ingatanku, seseorang yang berkata pada bapakku bahwa penyakit bapak diakibatkan oleh rokok, ia melarang bapakku tapi mengapa dia juga yang merokok. Keanehan yang lumrah namun sering diabaikan oleh mata yang melihatnya. Bolehkah aku bertanya, kenapa seorang yang mengerti tentang bahaya rokok tetap merokok, bukankah dia yang menyuruh semua orang untuk berhenti merokok sedang dia bersembunyi dari kerumuan dan merokok. Nyatanya dunia inisering menggelikan~
Lembar ketujuh membuat pipi daniel basah ~ terik siang membawaku kesini, membuatku iri akan ketidak adilan, aku juga ingin punya tempat belajar seluas ini, punya ruang baca yang unik dan dingin. Hanya saja uang menjadi kategori pemisah manusia, aku tak sebanding dengan mereka. Ah.. sebenarnya yang ingin kuceritakan bukan hal itu namun kejadian yang ingin ku tanyakan pada negeri. Tentang seseorang yang tiap saat dicium tangannya biar dapat ilmu yang bermanfaar sedang asyik berbincang bersama, lalu salah satu dari mereka melempar botol minuman ke arah halaman, tak ada yang menghiraukan mereka kembali berbincang, ah... ini bercanda aku pernah mendengar  saat upacara berlansung yang mana salah satu guru memperingatkan untuk menjaga kebersihan, jangan membuang sampah sembarangan, tapi nyatanya ada saja sampah yang terlihat dan guru itu sendiri yang membuangnya seperti yang terlihat saat ini. Apakah pantas seorang murid membuang sampah di tempatnya sedangkan seorang guru seenak dengkul membuangnya. Unik sekali negeri ini~
Lembar ke dua belas membuat si daniel mulai menggelengkan kepalanya ~ hari ini seperti biasa menjadi seorang pemulung yang siap tahan bau yang tak ada matinya untuk dihindari. Dulu kata bapak, kalau kita sudah biasa kita takk akan pernah merasakan baunya. Itu terbukti sampai sekarang bukan karena peciumanku yang rusak. Tapi, penciumanku telah berlatih secara akrab dengan bau sebusuk apapun. Di sebuah lorong cafee aku mulai mengais satu persatu sampahnya entah mengapa aku melihat ke meja bunder yang terdapat enam anak manusia kira-kira seusia 22 tahun, gaya yang trendy dan sepatu nike, nevada itu menyimpulkan bahwa mereka anak atas, tak sepantaran dengan aku. Sedikit ulasan aku mengenal merek sepatu brand dari coco china yang kadang meminta tolong aku untuk mengangkut barang bawaannya ke dalam gedung itu. Mereka berenam membuatku terpikat untuk melihatnya lebih lama, mereka berkumpul tanpa sebuah candaan hanya satu atau dua patah kata setelahnya mereka memainkan alat canggih yang biasa dibuat untuk menelfon. Kini aku berfikir kegunaan teknologi canggih adalah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, lihat saja sekarang mereka berbincang hanya untuk berfoto lalu setelahnya tak ada bincangan yang menarik lagi. Begitu hebatnya dunia ini dengan teknologi yan mampu melupakan aset kegunaan bibir untuk saling bersosialisasi lewat intraksi.
1 jam berlalu yang ditunggu datang juga, sang dokter keluar dengan mengucap beribu maaf yang membuat hati daniel berkecamuk tak karuan. Seruan dokter bersamaan dengan datangnya emak ali. Sehingga, rasa terpuruk itu tak hanya dirasakan daniel namun emaknya sudah tak sadar diri saat mendengar pernyataan dari dokter.
....
“ Ali... seharusnya kita berdialog di cafee, menyuruhmu untuk mengolah kata lagi, mengembangkan semua yang tertera di diarymu atau kamu akan membuat puisi baru, li.. tulisanmu itu sangat menyetuh, sekarang beribu orang telah mengenalmu mendatangimu mengirimi doa untukmu, maaf ali jika aku hanya menanggung salahmu seperti ini”
“Tidak nak, ali sudah menjadi punggung keluarga yang baik, dia telah menghabiskan hidupnya untuk memberi kehidupan yang layak untukku dan juga adiknya. Kamu telah menjadi orang yang sangat tanggung jawab. Mari pulang, emak tak tahan merasa bersalah jika terus berada disini.”
Begitulah percakapan singkat daniel dan emak. Setelah kejadian demi kejadian mereka menjadi akrab emak ali telah dianggap sebagai mak sendiri, tinggal bersama daniel di rumah istananya. Ali sang anak malang akhirnya tersampaikan juga pesan singkatnya untuk negeri ini tentang mereka yang menasehati namun hanya berkata tanpa aksi, tentang kesenggangan karena gelutnya teknologi. Kini kesadaran sang penghirup udara telah berubah berkat catatan kecil perjalan seorang ali.



Tuesday, October 30, 2018

" untuknya yang kini makin terasa"

dear diary..💦
      obrolan kita semakin hari semakin lama
      tatapan kita semakin sering menuai rasa
      tak ada lagi keraguan untuk menggengam
      namun...
                             semisal saja kedekatan ini tak berujung
                              semoga hati ini menerima
                             semisal rasa akan hanya soal masa
                             semoga aku tetap menggapmu teman saja
                             

Wednesday, October 24, 2018

“topi merah di ujung peraduan”


 “ selamat malam kota panorama
tunggulah aku sampai aku menemukannya, boleh?”
-al-
“ hallo ma.. aku sudah di bandara, 17 jam 40 menit lagi aku sampai kok ma”
“ iya hati-hati, jangan ada yang tertinggal”
Dia mengangguk, Lalu dia mematikan teleponnya sambil memandang ke arah jam dinding berwarna putih mengkilat di ruang tunggu saat itu, seketika dia bergegas mengambil koper biru dengan gantungan bertulisan al dengan hati-hati, tapi seorang lelaki seumurannya menghalanginya, ada mata kekecewaan disana, mereka mulai saling menatap, lalu dia tidak memperdulikan lelaki itu. Di sibaknya rambut panjangnya lalu pergi dengan menundukkan kepala.
(bandara internasional soekarno)
Dia mencari buku note yang biasa dia tulis tentang perjalannya
Selamat siang kota yang penuh dengan teka-teki
aku pulang ke tempat semula,
akankah aku menmukan jawaban
“al”
Lalu dia mencari seseorang di kerumuan orang yang sedang menunggu kedatangan orang dari kejauhan mungkin saja keluarganya, rekan kerjanya, atau bossnya. Lalu matanya tertuju pada dua orang laki-laki dan perempuan, perempuan tua yang masih terlihat muda dia memakai kimono bewarna biru dengan pita mengikat di pinggangnya, memakai high heels bewarna cream cocok dengan sling bag yang bewarna cream juga. Begitulah stylenya yang tidak berubah simple dan elegan, untuk yang lelaki di sampingnya bisa di katakan dia seorang kantoran dilihat dari baju dan jas yang sangat formal dan dasi bewarna biru tua yang melambangkan karismatiknya.
“ mama, kakak..” mereka saling melambaikan
“cepatlah al, sebentar lagi aku ada meeting dengan staf keuangan”
“kakak macam apa, adiknya baru sampai bukannya di peluk malah marah-marah”
“eh.. sejak kapan kamu menghakimiku( sambil memeluk gadis yang masih terlihat kecil baginya), ayo anak kecil kita kembali pada rumah yang sudah kau tinggalkan bertahun-tahun” (muka al mengerut)
“ sudah, sudah mama sedang tidak nafsu melihat kalian beradu mulut, ayo masuk ke mobil”
Di dalam mobil gadis itu hanya terdiam, mencium aroma sekitar mencoba untuk memejamkan mata kemudian tersadar kembali, mengotak atik telfon dari menu chat kembali ke home lalu ke icon picture melihat foto-fotonya dan kembali lagi ke home seakan dia memikirkan sesuatu, detak jantungnyapun tak karuan, remang-remang kota cinta masih dalam bayangannya mulai dari keindahan malam yang penuh dengan lampion sepanjang jalan, dan kemewahan paris yang menciptakan suasana romantis tanpa diminta, semuanya seakan terlihat jelas.
Dia telah sampai di rumahnya, dia terhanyut di peraduan sudut rumahnya, ada banyak sekali yang ingin dia katakan, sehingga masa dimana 5 tahun silam kembali merajuk padanya
....
“ sayang, gimana hari ini apakah kamu mengerti semua mata pelajaran, apakah gurunya asik atau menjengkelkan, atau papa harus ganti guru lagi”
“tidak usah pa,, umur al sudah 17, al paham kok mana yang harus dihargai dan mana yang harus di hakimi, masih untung ada yang mau ngajarin al”
“wah anak papa sudah besar ya”
Gadis kecil itu berlari keluar, dia mulai bermain dengan kucing kesayagannya sesekali menyanyikan lagu untuk perdamaian, sebenarnya dia tidak hanya bermain dia juga sedang menunggu sesorang yang biasanya mengantarkan surat kepadanya, dia harus menunggu 2 jam lagi, itulah mengapa sifat anak-anaknya mulai padam seseorang yang dia tunggu mampu berbicara soal arti hidup padanya.
“ pagi anak manis, kamu tidak belajar hari ini?”
“hey.. tidak, hari ini waktunya siang untuk belajar soalnya gurunya masih ngajar di sekolah”
“ o, begitu.. sekarang jam 10 berarti kurang 3 jam lagi kamu harus belajar, kita punya waktu untuk jalan-jalan, mau ikut?”
“ boleh.. tapi, mana suratnya dulu donk, bukannya bapak pos harus memberikan surat terlebih dahulu baru boleh berkeliling”
“maaf hari ini tidak ada surat buat kamu, tadi malam aku capek sekali lalu bayarannya aku akan mengajakmu ke pasar”
“siap kapten”
“kok kapten, aku kan tidak mengendari kapal aku mengendari sepeda ontel tua”
“oh gitu ya, (sambil tersenyum) kalau gitu siap pak pos”
“ayo nona cantik berpegangan”
Begitulah hari-hari gadis kecil itu dia selalu berpakain dress layaknya seorang putri kerajaan, wajah bulatnya sangat serasi dengan rambut sebahunya, dia sangat senang dengan kedatangan tukang pos muda yang dua tahun lebih tua darinya yang sering memberinya sepucuk surat dari tukang pos itu sendiri, gadis itu sangat senang bermain hal kecil yang kadang menurut orang lain membosankan hal itu dikarenakan selama hidupnya hanya tukang pos itulah teman satu-satunya, hal itu berawal sejak umurnya menginjak 17th. Saat al yang bertubuh pendek itu menerima surat pertama dari tukang pos, lalu mereka berkenalan dan mulai bermain bersama, terkadang bermain di taman rumah al, entah bermain kejar-kejaran, bermain bola, atau sekedar memberi makan kucing. Lelaki itu mengajarkan tentang kehidupan, al yang tak pernah keluar rumah di ajaknya keluar untuk mengetahui tentang hiruk pikuk dunia. Mungkin saja jika ketahuan papanya gadis itu akan dikurung dan tak boleh bertemu dengan lelaki itu lagi, namun rumah al yang luas itu tidak mengartikan sebuah keramaian. Kedua orang tuanya sibuk dengan dunia masing-masing mamanya seorang designer internasional sedang papanya seorang manager di perusahaan asing. Keduanya terkadang lupa bahwa al juga ingin tahu rasanya sahabat, teman dan bermain. Kakaknya sibuk dengan urusan sekolahnya jarang sekali mereka bertatap muka untuk bermain. Keluarga al hanya berkumpul saat sarapan saja setelahnya dia akan kesepian di rumah bagai istina itu.
....
“ al, mama boleh tanya?”
“boleh, ma”
“sini duduk di samping mama(al menghampiri mamanya, menyimak kata-katanya yang mengartikan hal penting akan dibicarakan) sejak kamu pergi mama sadar tentang perlakuan mama yang terkadang enggan untuk menuruti keinginanmu, mama kira kamu akan di bully sama temanmu atas jarimu yang tak sempurna seperti anak biasanya mangkanya mama dan almarhum papa waktu itu memutuskan untuk tidak menyekolahkanmu, mama sadar bahwa sebenarnya mama dan almarhum papamu adalah orang pertama yang membullymu memprediksi bahwa kamu berbeda dengan anak normal lainnya. Sekarang mama mau bertanya, kenapa kamu tiba-tiba pulang dari paris, bukankah kamu disana sudah memiliki apa yang kamu impikan dahulu?” (al tersenyum sambil memejamkan mata)
“ rumah ini mengajarkanku banyak hal ma.. dan paris mengajarkanku keteguhan, tapi aku harus menyelesaikan satu impianku dan aku harus kembali kesini”
“ impian apa nak?,(mamanya mulai menunduk isak tangisnya terdengar jelas)”
“ada apa ma, al hanya butuh jawaban atas sebuah impian” ( impian yang hanya aku dan dia yang tahu, impian yang hanya obrolan tanpa suara, ya suara dan nasehatnya yang terkadang hanya lewat mimpi membuatku bangkit lagi dari keterpurukan)
...
“al sini deh.. aku punya sesuatu buat kamu”
“apa?” ( lelaki itu memperlihatkan gantungan kuci bernama al bewarna hitam pekat terbuat dari besi) “ aku suka, gak bayar kan, apa aku harus menulis banyak surat lagi buat kamu atau apa”
“ ha..ha.. tidak usah al ini buat kamu suatu saat nanti aku akan memberikan cincin untukmu”
“cincin.. cincin buat apa? Bukankah itu kayak di film gitu yang tukar cincin terus mereka resmi menjadi pasangan”
“iya, al.. aku akan melakukan seperti itu agar aku bisa melihatmu sepanjang hari bukan hanya di waktu pagi atau sore saja seperti sekarang”
“umurku masih 18 tahun aku tidak mau menjadi setua itu, mengurus rumah atau malah masak seperti pembantuku”
“ siapa yang akan melakukannya sekarang, suatu saat nanti ketika kita mulai sama-sama mengerti apa itu sebuah impian, ingatlah satu hal itu adalah impianku dan itu hanya bisa terwujud jika bersamamu” ( al tersenyum padam, pipinya memerah merona)
...
“ ayo lagi membicarakan apa seh kok aku gak di ajak, sambil ngelamun lagi neh anak”
“tanya mama, aku ke kamar dulu ya kak”
Al menuju kamarnya, membuka jendela kamarnya sekilas terlintas bayangan seorang lelaki, dia tersenyum, dia mulai memejamkan matanya membiarkan angin memainkan rambutnya, tak kala dia sedang berdialog dengan hatinya, sekejap setelah perenungan dia membereskan kamarnya mulai dari melipat kembali baju kecilnya, dan menata ulang buku-bukunya lalu dia menemukan seutas surat.
Hy, putri kecil bolehkah aku mengenalimu lebih dari saling menyapa
Kamu seperti pemaisuri yang kehilangan jati dirimu
Kamu terlihat pasif , kamu terkurung dalam kastilmu
Boleh aku mencoba menarikmu keluar
_tukang pos merah_
” kamu dimana sekarang pak pos, apakah kau bai-baik saja” dia mulai mebaca setiap surat yang terpangpang, dia mulai merajut setiap sajak yang berkecamuk. kata demi kata mulai di ingat kembali lembar perlembar seperti serpihan kenangan yang di satukan.
Alena dwi lestari, hari ini mungkin kau akan membenciku, maafkan aku.. aku tak sekuat yang kamu kira aku tak sesempurna yang kau bayangkan, jadi maafkan aku, mulai esok aku tak akan berkunjung ke rumahmu lagi, aku harus menyelesaikan ini semua, menyelesaikan soal yang belum pernah ku temukan kunci jawabannya. Aku percaya kamu perempuan kuat lebih kuat dari naga yang sering ku dongengkn padamu, jadi percayalah hidupmu berada pada tanganmu sendiri. Jangan takut dingin lagi sebab itu hanya prediksi dokter bahwa itu akan melukaimu, percayalah air yang menempel pada tubuhmu lalu kedinginan yang kau rasakan adalah aroma romantis yang pernah kita lakukan, terimakasih karena berkatmu aku bisa bertahan dan berkatmu aku bisa mengambil keputusan ini percayalah ada atau tanpaku. Kekuatanmu tetap sama kau akan tetap menjadi alasanku untuk mewujudkan impian
_tukang pos merah_
Alena memandang ke atas langit-langit kamarnya, dia mulai enggan berkutik lagi, dia mulai memaksakan diri untuk tersenyum dan menahan air mata sambil membaringkan badannya ke kasur lalu terlelap tidur di atas ranjangnya sambil memegang semua surat yang dia baca.
“ al.. ayo bangun nak ini sudah sore kamu bilang, kamu ingin ke tempat pos,”
“iya.. ma, lo mama mau kemana? Kerja?”
“mama mau ikut kamu, ayo cepat ( al terkejut dia menggeleng pada mamanya) tidak usah berkomentar, mama bukan mengekangmu tapi mama masih kangen sama kamu”
“ok ma..”
 Al dan mamanya mulai menelurusi semua teka-teki yang masih enggan menjawabnya, tentang siapa tukang pos masa lalunya yang datang tanpa dia minta dan pergi tanpa bertatap muka, al menemui semua tempat pos di pelosok kota jakarta, dia melihat semua data karyawan dari 5 tahun lalu atau bahkan 7 tahun yang lalu. 2 minggu sudah dia mencari semua data di tempat pos, tapi dia tak menemukan satupun jawabannya, dia hanya termenung membisu antara kecewa dan pasrah terlihat di otaknya.
...
“ al, aku butuh jawabannya.. you know that i am waiting you 2 years al,  itu bukan waktu yang sedikit untuk sebuah penantian”
“ aku gak bisa dave, aku tak memiliki jawaban sebab i am waiting someone, aku juga sedang menunggu jawaban”
“sampai kapan al.. you don’t know him, tempat tinggalnya bahkan namanyapun kau tak tahu”
“ dan kamu tidak tahu apa tentang aku dan dia, aku akan memberimu jawaban setelah aku mendapatkan jawabanku di indonesia”
“ aku ikut”
“buat apa dave, kamu cukup disini saja menungu semua kabar dariku”
“ok, promisse! ”
“ I promise”
...
( aku telah mencarimu, aku tak tahu harus mencarimu kemana, seharusnya kau memberiku petunjuk entah lewat mimpi atau apapun itu, dengarkanlah aku jika kau masih mendengarnya topi merahku yang hilang aku sangat merindukanmu. Katakan padaku aku harus bagaimana, aku harus seperti apa apakah aku harus pergi tanpa jawaban atau terus menunggu jawaban sampai hari tuaku, tolong bicaralah aku enggan menuntutmu lebih dari sekedar berbisik padaku. Jadi tolonglah hati yang sedang kebingungan ini. Aku benar-benar kehilangan arah, aku ingin bertahan namun disana juga ada orang yang menunggu atas jawabku, jika aku tak menjawabnya sepertinya aku akan sepertimu, lihatlah aku wahai sang topi merah, aku sudah tak berdaya dengan pilihan ini, kenapa kamu membuatku jatuh cinta sedang aku harus mencari jawaban dari kata cinta, kenapa harus ada jenaka di dalam kotak yang kau peruntukkan untukku. Aku sudah tersesat dengan jenakamu aku mulai enggan membicarakan lagu kasmaran, rasanya kamu sama saja  kamu yang membuat janji lalu kamu yang mengingkari, kamu yang mebuat teka-teki tapi aku yang harus mencari jawabannya.) al mulai berbisik pada diri sendiri, berdialog hati yang membuatnya leboh kebingungan dia harus seperti apa, dia telah menceritakan semuanya pada mamanya dan ia mulai lebih kebingungan lagi ketika ibunya hanya terdiam dan pasrah pada jawaban al sendiri.
“ al.. mama tahu, apa yang kamu rasakan tapi kamu lebih tahu sebenarnya kamu cari, kamu mencari jawaban dari masalalu atau mencari jawaban untuk masa depan, nak.. pilihan tak akan kedua kali dan semua pilihan adalah resiko, dave disana menunggu jawabanmu seperti kamu yang menunggu jawabannya si topi merah. Siapa yang tahu keadaan dia bagaimana jika dia lupa atas janjinya, bagaiman kalau itu hanya cinta monyet belaka, lalu kau mendiamkan orang yang sudah pasti mencintaimu, lalu apa bedanya kamu dengan si topi merah, tolong pikirkan kembali sebelum semua hilang satu persatu dan penyesalan datang menyatu, ingat jangan mencari yang semu jika yang pasti saja kau penuhi dengan teka-tekimu sendiri”
Al hanya mengangguk dan membiarkan mamanya pergi menjauh darinya, kini dia sendiri mulai mengulur waktu dengan melihat semua perlakuan baik dave kepadanya
..
“ ice coffe latte or caramel”
“caramel”
“aku tahu, kamu pasti belum mandi”
“apaan sih dave sini caramelnya”
“ eh,, soalnya aku mencium aroma menyengat”
“enak aja.. aku udah mandi kali, kamu aja yang sok tahu dasar.. atau jangan-jangan kamu lagi yang belum mandi (sambil menggelitik dave dan tertawa.. dave mulai mengejarnya dan menggelitik balik si al)
Begitulah keseharian dave dan al mereka teman yang terlalu akrab, dave adalah seorang fotografer terkenal di paris, dengan kacamata bewarna hitamnya seakan nampak bahwa dia seorang cowok yang memiliki style tinggi, dia adalah orang yang tiap pagi tak pernah absen menemui al, setiap malam mengajak al jalan-jalan. Tak ada habisnya dave menanyakan atas jawaban dari perasaannya pada al dan saat itu pula al hanya menjawab aku belum memiliki jawaban dave.
..
“ hallo dave.. aku udah menemukan jawabannya”
“ really, ok tunggu, aku masih di jalan( dia memarkirkan mobilnya di salah satu caffe dan mulai berbicara kembali dengan al di telfon) iya al gimana?”
“aku mau dave, aku mau menghabiskan waktuku bersamamu”
“ really.. oh gods.. makasih al malam ini aku kembali ke indonesia”
Dave menutup telfonnya, lalu dia menghubungi orang tuanya dia berbicara soal keinginannya untuk meminang anak orang, dia mengatur semuanya mulai dari tiket pesawat sampai membawa semua perlengkapannya. Dave juga membelikan cicin untuk dibawanya pulang lalu kalung dolphin kesukaan al saat di paris. Sesampainya dirumahnya dave mempersiapkan pernikahannya sesuai permintaan al pernikahannya harus sederhana tidak mewah dan hanya dihadiri sanak keluarga saja. Tepat pada tahun baru umur mereka genap 25 tahun mereka bersanding bersama di tunggu seorang pengulu dan berbagai sanak keluarga berkumpul disana, ijab qabulpun mulai di ucapkan secara perlahan lalu mata al tercengang melihat wajah yang tak asing baginya ada di sudut kerumuan keluarga dave. Sampai ijab qabul selesai dan proses tukar cincin terlaksana, al mulai membisik “ dave yang duduk di pojok itu siapamu”
“oh itu kak kinan, dia kakakku biar aku perkenalkan”
“ kak kinan sini” lelaki itu mendekat, detak jantung al terasa lebih kencang dari sebelumnya, al semakin tahu siapa dia, al mulai menerka wajahnya, semakin dekat lelaki itu semakin dia mengenalnya.
“oh iya kak ini al, al ini kinan kakakku”
“ hy al.. kinan(sambil menjulurkan tangannya sambil tersenyum)
(Kata itu, kata itu adalah kata yang sama yang pernah aku dengar.. iya kata hy yang sering membuatku ingin melompat menghampirinya) al berbisik pada hatinya
“al.. ada apa” kata dave
“oh tidak, hy kinan aku al”
“ al aku kesana dulu ya ada beberapa teman kerja yang minta di jemput, tunggu sini aja, kakakku baik kok.” (iya dia baik, sangat baik) setelah dave membiarkan keduanya berbicara, mereka berdua hanya saling menatap, keduanya enggan memulai pembicaraan seakan keduanya tak tahu harus memulai seperti apa, akhirnya kinan memulainya.
“ apa kabar alena? Selamat atas penikahannya”
“ aku masih butuh jawabannya, ( mata alena telah merah air matanya merajuk untuk keluar) aku butuh penjelasan tentang ini semua, kenapa kamu pergi, kenapa kamu menaruh janji, kenapa harus ada harapan, kenapa harus ada kamu disini, kenapa semuanya terjadi pada aku, seseorang yang dari kecil kekurangan kasih sayang lalu tidak pernah bersosial dengan siapapun, dan sekarang dia bisa mencari jati dirinya karena ada orang yang menaruh impiannya di punggungku, tapi apa sekarang! Aku sampai di titik ini menunggu impian dan apa maksud kejadian ini semua ceritakan.. ceritakan tolong( air mata alena sudah tak bisa di bendung lagi, dia hanya terisak menunggu kinan menjawabnya)
“siapa yang tahu hal ini akan terjadi, aku pergi karena aku tahu hari itu aku harus menyelematkan keutuhan keluargaku yang hampir runtuh, aku pergi ke eropa menemui papaku minta pertanggung jawaban atas apa yang dia perlakukan ke mama, lalu bekerja disana untuk menghidupi mamaku dan kedua adikku, bukankah aku sudah berjanji untuk menemui, aku meberimu gantungan kecil itu agar kamu tahu bahwa disitu adalah semua jawaban. Tapi apa? aku kembali menemukanmu bersanding dengan adikku sendiri, kamu kira ini hanya sakitmu, kau mau fikir hanya kamu yang tkinanka disini, aku juga dipermainkan disini yang awalnya aku adalah tokoh utama sekarang menjadi tokoh sampingan yang akan melihatmu bermesraan dengan adikku sendiri, seandainya aku boleh memilih, aku akan memilih kembali ke eropa tapi aku sudah memindahkan semua perusahaanku di indonesia. Lalu aku kira aku bisa menemui impianku, iya aku menemuinya tapi tidak dengan keadaan seperti ini. Boleh aku bertanya, kenapa kamu mempertontonkan semua ini? Kenapa al.. kenapa?”
Al pergi menjauh dari kerumuan, dia berlari ke mobil mamanya dia mengendarai mobil menuju rumahnya, dave berkali-kali menelfonnya dia tak mengangkatnya, kemudian al berlari menuju rumahnya tak menghiraukan perkataan pak satpam yang menanyakan ada apa dengannya, dia berlari menuju tangga atas membuka pintu kamarnya mencari gantungan kunci itu dan dia baru sadar bahwa ada ukiran kecil disana bertulisan “7 tahun lagi” dia mengecheck semua surat yang diberikan kinan padanya dia baru tahu bahwa di belakang surat terakhirnya ada tulisan dari pensil yaitu alamat kinan. Seharusnya dia lebih teliti, seharusnya dia menyadari maksud 7 tahun lagi, bukankah dave pernah menanyakannya tentang ada apa di 7 tahun lagi tapi dia malah tak memperdulikan dan merasa dave telah mengingau. Al mulai teriak, dia merasa dia yang mengingkari janjinya sendiri dan sekarang dia menyakiti orang yang dia tunggu jawabannya lalu seandainya dia berkata sejujurnya pada dave lalu bercerai bukankah dia akan menyakiti dua hati manusia. Mereka bersaudara tak seharusnya mereka bertengkar karenanya. Al mulai bimbang dia perlahan mengambil pisau di dapur dan di bawanya ke kamar lalu mengumpulkan semua kenangan bersama dave dan kinan.
“ aku tak mau memperlihatkan kemesraanku kepada orang yang kucintai dan aku tak mau membohongi suamiku atas perasaanku, aku takut suatu saat aku akan bercumbu dengan orang kinan di belakang suamiku, aku takut bercumbu dengan dave lalu itu melukai orang yang kucintai, ini semua salahku.. andai saja aku menunggu lebih lama lagi pasti tak ada yang tersakiti, ini salahku semua salahk”
Al menusuk perutnya dengan pisau sambil berkata” ini untuk suamiku yang setia menunggu jawabanku” lalu dia menusuk kembali ke sebelah kiri “ ini untuk orang yang kucintai sampai detik ini” darah al mulai bertaburan dia mulai terjatuh di lantai tak berdaya lalu dave datang menibrak pintunya dan dia terlambat datang, tak pkinan diceritakan bagaimana keadaan mama dan kakaknya mereka selalu di hantui rasa penyesalan karena semasa hidupnya mereka tak memberikan al kebebasan, tidak hanya itu jalan memilih dave adalah saran dari mamanya sendiri sehingga rasa bersalah membuatnya menjadi orang yang tak waras, sedangkan dave merasa bersalah karena meninggalkan keduanya mengobrol berdua tidak cepat menghalangi al pergi padahal dia tahu al mengendari mobil. Sehingga saat ini setiap dia mendengar nama al pada dirinya atau mengingat tentang al atau kenangan di paris dia selalu melukai dirinya sendri. Sedangkan kinan adalah orang yang merasa sangat bersalah karena setelah dia menjelaskan semuanya al menjadi orang gila dengan melakukan bunuh diri, seharusnya dia tidak memberi clue yang sulit seharusnya dia datang lebih awal, seharusnya dia mau mendengar cerita adiknya tentang seorang perempuan yang dia suka di paris seharusnya dia mau melihat fotonya hingga dia tahu bahwa perempuan yang dia cintai berada di paris,Tetapi itu hanya kata seharusnya yang dia sendiri tak bisa melakukannya dan mengulang kembali. Lalu Kinan mulai tak kuasa pada dirinya sendiri hingga dia bunuh diri setelah 7 hari kematian alena. Akhir yang tragis pemakaman alena dan kinan bersampingan setidaknya mereka bisa bersatu di alam sana. Begitulah Alena menuntut penantiannya yang berujung pada kematian.
Setelah satu tahun kejadian sosok alena gemar dibicarkan di kalangan remaja mereka merasakan bagaimana tragisnya sebuah penantian hal ini dikarenakan dave bangkit dari ketepurukannya lebih tepatnya dave menemukan jawaban sebenarnya. Dave menerbitkan novel berjudul “ALENA KU” lalu beribu orang membei dan membacanya dan kini pemakaman alena dan kinan menjadi banyak didatangi oleh kerumuan orang penggemar fanatik dari dave. Alasan dave melakukannya agar dia bisa menebus segala kesalahan dirinya terhadap sosok kakaknya dan perempuan yang ia cintai, dia merasa bahwa dia hanya penghalang cinta mereka, alasan kedua dave ingin alena dan kinan tetap hidup dengan cara hidup di dalam novel yang menginspirasi banyak orang.
Camelia anjelia

01 januari 2016

Monday, October 15, 2018

indonesia- inggris puisi yang memiliki makna sama

“jawaban perihal melupa”
                Taukah kamu?
                Ada yang berbeda dengan pagi
                Dia tak lagi menjadi mentari
                Hilang pekat soal bising
                Semuanya menjadi asing
                                Ketahuilah !
                                Sejak sajakmu aku terima
                                Semuanya tak lagi sama
                                kehilangan tentang kabar
                                melupa tentang sabar
                sketsa itu membuatku tahu
                soal mata beraroma tak berdosa
                sketsa itu membuatku tahu
                tentang bangkai yang menjelma asa
                                ketika bahagiamu mendekat biarkan aku datang merapat
                                jangan bercumbu pada masa lalu nanti sajakku kaku
                                aku berdamai karena Aku telah menemukanmu




"Answer about forgetting"
Do you know?
Now, differences of morning
Morning is feeling running
Lose  utterance in noise
The leave a trail of rose
                                                Know it !
                                                Since your verse I received
                                                I am not belong beloved
                                                lost about news
                                                forget courageous 
the sketch made me know
about innocent scented eyes
the sketch made me know
about doubtful carcasses
                                                when your happiness is approaching let me come closing
                                                do not remember of the past, it will be last

                                                I made peace for you because I found you

Wednesday, September 26, 2018

" tentang tamu yang lupa akan temu"

Berawal dari dia yang diam-diam matanya merambat ke retinaku
dia yang tak sempurna 
mencuri sebagian nyamanku 
memasuki ruang sepiku untuk menjadi tenang
merengek untuk berpetualang di setiap tidurku
tapi dia juga menipuku
dia akan lupa akan temunya kali ini
dia tak akan lagi meminum segelas coffe dengan rasa frezze di sampingku
dia akan lupa tentang hari ini
sebab memang tak seharusnya mata kita saling bertemu
tak seharusnya ada nyaman setiap saling bersampingan
dia juga sadar tentang hal ini
tentang seseorang yang memeluknya dari belakang
seseorang yang bermanja mesra dengannya
dia bertanggung jawab atas hal itu
biarkan aku hanya klisenya untuk senyum yang diam-diam lalu tatap yang membisu

Sunday, September 9, 2018

DI BALIK KETIDAK PERAWANAN?

Dear lelaki..
                Apa yang kamu fikirkan ketika mendengar siapa itu perempuan baik
          Apa yang kamu lakukan saat kau mendengar tentang perempuan baik
          Apa tolak ukur bagaimana seorang perempuan bisa dikatakan baik
          Tentang perempuan..
          Apakah sepenuhnya kau tahu siapa itu perempuan
          Apakah kau mengerti siapa yang bertanggung jawab atas baik tidaknya perempuan
          Jika tidak, kenapa kaum kalian seenaknya memutar lidah untuk seorang perempuan
        Bagaimana jika ada perempuan yang tidak perawan
        Apakah kaum kalian akan menghujatnya
        Apakah kaum kalian akan menjauhinya
        Pernahkah kalian berfikir tentang sebab akibat
        Dimana suatu kejadian terjadi pasti karena ada sebab
        .
        .
        Sudah berfikirnya?
        Jika belum menemukan mari kita renungkan
        Semua perempuan yang tak perawan sesungguhnya bukan atas kemauannya
        Lihatlah bagaiman kaum kalian menggoda, merayu, mengumbar janji
        Pada hati perempuan yang halusnya seperti kapas mudah di bentuk dan diterbangkan
        Mereka yang tak perawan bukanlah perempuan rusak
        Mereka hanya terjebak oleh kaum kalian yang menjadi perusak
        Kalian boleh menentang bahwa kenapa perempuannya mau?
        Pertanyaan akan terjawab jika kalian juga menjawab,
        kenapa kaum lelaki memaksanya, menggodanya, mengumbar janji yang jarang sekali    ditepati,          kenapa? Kenapa kaum lelaki tega memakai cara itu untuk menjadikan   perempuan sebagai alat            pembuah nafsunya
        mereka yang tak perawan bukanlah haus akan nafsu belaian tapi mereka terjebak oleh                    kaum   kalian yang memperalat sebagai pemuas kalian
        ingatlah perempuan baik tidak di ukur oleh perawan atau tidaknya seorang perempuan..
        jangan remehkan seorang yang tak perawan karena hatinya setangguh besi menerima   hujatan           dengan senyuman saja


Monday, August 20, 2018

"REKAAN MERDEKA"

aku gegap berdiri
melihat ke langit 
mempertanyakan soal biru
lalu tentang kibarannya yang enggan hilang
merahnya merona 
putihnya singgah di pelipis mata
aku memejamkan mata
            betapa nyamannya hari ini makan minum di negeri sendiri
            betapa berjuangnya dahulu makan minum sembunyi
            betapa penatnya dahulu tak memiliki negeri
            namun betapa mudahnya dahulu
            memperjuangkan negeri sendiri dari bangsa lain
            betapa sulitnya hari ini
            memperjuangkan negeri dari negeri sendiri
kembali ku membuka kelopak mata
terasa kelu mengumandangkan lagu ini
merdeka hanya kata mereka yang duduk di panggung sandiwara
merdeka hanya untuk mereka yang berkolaborasi dengan dusta
negeriku belum merdeka
negeriku masih sakit 
sakit di serang oleh rakyat sendiri
masih banyak yang menderita
masih banyak yang meronta
                          mereka yang duduk dengan tahta 
                          pulang dengan tentram
                          ingat soal rakyat saat pemilu saja
                          lupa pada rakyat saat kenyang tanpa minta
                          ini nyata bukan drama yang kau skenariokan di ajang kampanye
                          ini nyata bahwa kami masih sengsara
                          dari rintihan rakyat jelata

“SEUTAS PESAN UNTUK PENGHIRUP UDARA”

-selamat atas perkenalannya lalu dengarkanlah pesanku untukmu Sang penghirup udara-             “Mas daniel, apakah kutipan ini asl...