-selamat atas perkenalannya lalu dengarkanlah pesanku untukmu
Sang penghirup udara-
“Mas daniel, apakah kutipan ini asli karya mas daniel atau masih ada sangkut pautnya dengan anak itu?”
“Tidak, ini hanya rekaan saya, saya ingin membumbuinya agar ada yang membacanya begitu juga dengan judulnya”
“Terimakasih mas daniel atas jawabannya. Baiklah, para journalis, wartawan serta teman-teman penulis dan komunitas-komunitas yang disini tadi adalah pertanyaan terakhir sekaligus menutup acara siang ini, terimakasih kehadirannya untuk yang ingin berfoto kami persilahkan namun dengan cara bergiliran dan untuk yang ingin memperoleh tanda tangan silahkan berkumpul di ruang sebelah kiri saya. Terimaksih banyak dan salam literasi negeri”
Acara spektakuler kelima yang telah didatangi daniel setelah launching terbitan buku barunya, setelah acara selesai ia mulai bergegas pergi. Ia berkunjung ke tempat peristirahatan seseorang sambil tersenyum karena melihat tempat itu sudah ramai.
.....
Jalan Muara Baru Raya memiliki banyak kisah yang tak ada hentinya menjadi situs miris untuk didengarkan. Sebuah perkampungan di bawah jembatan yang memiliki puluhan kepala keluarga yang di kategorikan sebagai keluarga tidak mampu. Distulah tempat dimana Ali dilahirkan, seorang anak lelaki yang tergolong pintar di kampungnya, seorang anak yang menginginkan sekolah tinggi namun terbengkalai oleh keuangan. Kegiatan sehari-harinya adalah serabutan, terkadang dia menjadi pedagang koran, asongan, mengamen, pemulung. Semua itu dilakukan untuk menghidupi dirinya sebagai lelaki satu-satunya yang berada di rumahnya.
“Ali, kamu meninggalkan catatanmu”
“oh, iya Doni makasih. Buku ini Sangat berarti bagiku” buku berwarna kusam hadiah terakhir dari ayahnya, masih terlihat jelas bagaiamana klise cerita itu terbentuk di bayang-bayang matanya. Hingga kini Ali menyimpannya dengan rapi dan mempergunakannya sebagai diary hariannya, tentang sebuah tanya yang kerap menghantuinya.
Pagi mulai menyerngit pelipis pada sebagian orang yang mencari asupan nasi, gemulainya juga membekas pada Ali sang Anak lelaki yang berumuran 18 tahun, baju hitam bercorak coklat sedikit kusam telah membungkus tubuh kurusnya, jika seperti itu tandanya ia telah siap bertarung melawan siang.
“mak, ali berangkat dulu (sambil mengambil beberapa koran dan minuman karena memang setiap pagi pada hari kamis ini tugasnya adalah menjual koran dan minuman)”
“iya, li hati-hati, nak nanti jangan terlalu sore kamu harus sekolah”
“ iya mak, assalmualaikum”
“waalaikumsalam”.
Alipun melangkahkan kakinya keluar gubuk tua itu, lambai demi lambai tangannya melukiskan setiap kisahnya. Ali menuju setiap lampu merah ia menawarkan koran dan minumannya pada setiap kendaraan yang berhenti di depannya. Lelah, mungkin itu yang melukiskan deraian keringat yang terus menembus pakaiannya, ia melaju semakin lambat namun senyumnya membuat semua orang menyangka dirinya sedang bahagia. Pukul 12 siang Detik ke 30 jam berdering sangat kuat tak biasanya, kaki ali berada di garis zebracross lalu suara dengum mengumpulkan banyak kepala di sekelilingnya, lumuran darah kini menyelimuti badan kecil yang amat kelelahan, orang-orang mulai panik kebingungan lalu seorang pemuda berkacamata mulai menggendong ali ke mobilnya dan membawanya ke gedung putih, kita mengenalnya dengan nama rumah sakit.
“atas nama siapa pak?”
“e... saya gak tau sus, emm... pakai nama saja ya sus, saya daniel”
“oh baik pak, silahkan membayar registasinya nanti akan ditangani oleh dokter krisna”
“ini atm saya, saya minta berikan penanganan yang khusus, saya akan tanggung semuanya.” “baik pak, silahkan menunggu” menit ke 30 ruangan pemeriksaan ali masih tertutup, doa beribu doa dilantunkan daniel, serambi menunggu daniel mencari tau identitas ali di tas hitam yang bolong-bolong, dia membaca semua buku tulisan ali, kini hatinya bergumam... pintar sekali anak ini, setelahnya daniel melihat buku kusam dengan coretan yang hampir memenuhi setiap lembar buku itu, perlahan-lahan daniel membacanya. Di lembar keempat buku harian ali membuatnya tersenyum,
~ Pagi ini dunia kembali membuatku bertanya tentang siapa yang membuat aturan dan siapa yang melanggarnya, kakiku berhenti pada sebuah gedung yang kerap membuatku takut masuk kedalamnya karena tempat itu terkahir kali bapak menghembus nafasnya, namun kali ini berbeda, aku melihat lelaki tua yang memakai jas putih duduk santai di tepi parkiran, ia menghisap ujung putung rokok detik demi detik, lelaki itu masih jelas di ingatanku, seseorang yang berkata pada bapakku bahwa penyakit bapak diakibatkan oleh rokok, ia melarang bapakku tapi mengapa dia juga yang merokok. Keanehan yang lumrah namun sering diabaikan oleh mata yang melihatnya. Bolehkah aku bertanya, kenapa seorang yang mengerti tentang bahaya rokok tetap merokok, bukankah dia yang menyuruh semua orang untuk berhenti merokok sedang dia bersembunyi dari kerumuan dan merokok. Nyatanya dunia inisering menggelikan~
Lembar ketujuh membuat pipi daniel basah ~ terik siang membawaku kesini, membuatku iri akan ketidak adilan, aku juga ingin punya tempat belajar seluas ini, punya ruang baca yang unik dan dingin. Hanya saja uang menjadi kategori pemisah manusia, aku tak sebanding dengan mereka. Ah.. sebenarnya yang ingin kuceritakan bukan hal itu namun kejadian yang ingin ku tanyakan pada negeri. Tentang seseorang yang tiap saat dicium tangannya biar dapat ilmu yang bermanfaar sedang asyik berbincang bersama, lalu salah satu dari mereka melempar botol minuman ke arah halaman, tak ada yang menghiraukan mereka kembali berbincang, ah... ini bercanda aku pernah mendengar saat upacara berlansung yang mana salah satu guru memperingatkan untuk menjaga kebersihan, jangan membuang sampah sembarangan, tapi nyatanya ada saja sampah yang terlihat dan guru itu sendiri yang membuangnya seperti yang terlihat saat ini. Apakah pantas seorang murid membuang sampah di tempatnya sedangkan seorang guru seenak dengkul membuangnya. Unik sekali negeri ini~
Lembar ke dua belas membuat si daniel mulai menggelengkan kepalanya ~ hari ini seperti biasa menjadi seorang pemulung yang siap tahan bau yang tak ada matinya untuk dihindari. Dulu kata bapak, kalau kita sudah biasa kita takk akan pernah merasakan baunya. Itu terbukti sampai sekarang bukan karena peciumanku yang rusak. Tapi, penciumanku telah berlatih secara akrab dengan bau sebusuk apapun. Di sebuah lorong cafee aku mulai mengais satu persatu sampahnya entah mengapa aku melihat ke meja bunder yang terdapat enam anak manusia kira-kira seusia 22 tahun, gaya yang trendy dan sepatu nike, nevada itu menyimpulkan bahwa mereka anak atas, tak sepantaran dengan aku. Sedikit ulasan aku mengenal merek sepatu brand dari coco china yang kadang meminta tolong aku untuk mengangkut barang bawaannya ke dalam gedung itu. Mereka berenam membuatku terpikat untuk melihatnya lebih lama, mereka berkumpul tanpa sebuah candaan hanya satu atau dua patah kata setelahnya mereka memainkan alat canggih yang biasa dibuat untuk menelfon. Kini aku berfikir kegunaan teknologi canggih adalah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, lihat saja sekarang mereka berbincang hanya untuk berfoto lalu setelahnya tak ada bincangan yang menarik lagi. Begitu hebatnya dunia ini dengan teknologi yan mampu melupakan aset kegunaan bibir untuk saling bersosialisasi lewat intraksi.
1 jam berlalu yang ditunggu datang juga, sang dokter keluar dengan mengucap beribu maaf yang membuat hati daniel berkecamuk tak karuan. Seruan dokter bersamaan dengan datangnya emak ali. Sehingga, rasa terpuruk itu tak hanya dirasakan daniel namun emaknya sudah tak sadar diri saat mendengar pernyataan dari dokter.
....
“ Ali... seharusnya kita berdialog di cafee, menyuruhmu untuk mengolah kata lagi, mengembangkan semua yang tertera di diarymu atau kamu akan membuat puisi baru, li.. tulisanmu itu sangat menyetuh, sekarang beribu orang telah mengenalmu mendatangimu mengirimi doa untukmu, maaf ali jika aku hanya menanggung salahmu seperti ini”
“Tidak nak, ali sudah menjadi punggung keluarga yang baik, dia telah menghabiskan hidupnya untuk memberi kehidupan yang layak untukku dan juga adiknya. Kamu telah menjadi orang yang sangat tanggung jawab. Mari pulang, emak tak tahan merasa bersalah jika terus berada disini.”
Begitulah percakapan singkat daniel dan emak. Setelah kejadian demi kejadian mereka menjadi akrab emak ali telah dianggap sebagai mak sendiri, tinggal bersama daniel di rumah istananya. Ali sang anak malang akhirnya tersampaikan juga pesan singkatnya untuk negeri ini tentang mereka yang menasehati namun hanya berkata tanpa aksi, tentang kesenggangan karena gelutnya teknologi. Kini kesadaran sang penghirup udara telah berubah berkat catatan kecil perjalan seorang ali.
No comments:
Post a Comment