Thursday, July 5, 2018

masih mem pagikannya

Sembari Menunggu Pagi

Setungguk kopi dan rajutan manis para penunggu pagi membelai lembut suasana di perbatasan jalan. Sesaat aku mulai memikirkan sesuatu, Kadang aku bingung dengan ceritaku sendiri tentang rindu yang tak pernah kelar lalu soal dia yang ujung rambutnya saja tak bisa terlepas pada memoryku. Sesaat aku harus lupa benar-benar lupa tapi itu hanya sebuah cara agar rindupun ada batasnya. Namun, sebanyak cara aku lupakan sebanyak itu pula aku merindukan. Kadang, membiarkannya akan membuat luka lalu melupakannya akan menambah luka. Entahlah, apa hebatnya dia sehingga aku harus seperti ini atau aku yang diam diam menjadi manusia bodoh tetap merasa meskipun telah terlepas. Ada keyakinan di balik itu semua mengapa aku masih seperti ini, ya.. aku yakin bahwa sakit karena rindu ini bukan aku saja namun juga dia. Situsi ini bukan sekedar melelahkanku namun juga dia yang tak ada habisnya berusaha meyakinkanku bahwa pisah buka berarti pisah. Padahal aku tahu dia juga sama sepertiku berusaha berkali-kali melupakan kejadian yang tertumpuk lalu, dinamakan sebuah kenangan. Biar saja semua seperti kopi akan di minum meski pahit sebab sudah terbiasa begitu juga dengan rindu jika sudah terbiasa merindu semua akan baik-baik saja, biarlah biar dirasakan bagaimana rindu menyampaikan dengan cara merindu bahwa ada makna yang tak setiap orang dapaat menerimanya. Sudahlah ini terlalu petang untuk membahas tentang dia yang masih terbungkus rapi di sudut rindu yang aku seggani. Untuk sebuah akhir atau sebuah keputusan itu bukan urusanku, urusanku hanya menjalankan skenario mungkin saja skenarionya tentang rindu ya biarkan tuhan yang tahu ending dari sebuah rindu untuk dia.

No comments:

Post a Comment

“SEUTAS PESAN UNTUK PENGHIRUP UDARA”

-selamat atas perkenalannya lalu dengarkanlah pesanku untukmu Sang penghirup udara-             “Mas daniel, apakah kutipan ini asl...