Sunday, July 29, 2018

“ tentang rasa yang terlambat”

.
.
                       Hari itu serasa embun mulai memberingas masuk ke sudut jendela membuatku sadar hari ini masih buta, terlalu pagi untuk ku sentuh lamunan tentang tempat ini, tempat yang sudah lama ku tingggalkan, tempat yang ku rasa masih berbekas sebekas ucap dan kenang yang selalu jadi modernisasi ucapan anak remaja. (kring..kring telepon bergetar) beriringan dengan nadanya membuat kacau lamunan, eh ternyata orang yang ku tunggu menelpon juga.

“ hy kei.. gimana? Udah di rumah?”
“iya dit aku sudah memeluk boneka beruang, itu berarti aku sudah menginap di rumah, khawatir banget lu”
“ gak gitu kei, aku takut kamu jadi amnesia setelah lama di hongkong, nanti kamu nyasar, eh tapi gak papa sih kalau kamu nyasar kan lucu tuh bisa jadi hot topic “
“ woyy kamu kira ini permainan petak umpet, omnganm gak pernah berubah ayo ketemu aku sudah gak sabar menonjokmu, lama aku tak bersua sama orang yang sering nelpon satu menit buat tanya kamu sehat kei?, habis itu udah dimatiin, sumpeh ngeselin banget”
“hahhah.. aku tuh gak mau kalik gangguin kamu yang sedang asyik bersua di negeri orang jadi tanya kabar sudah cukup kei.., gini-gini kamu kangen kan”
“ iya kangen.. kangen nonjok, ayo dit aku udah siap, kamu kesini apa kita ketemu di tempat biasa”
“ katemu di tempat biasa aja kei”
~`

           ( setelah di kafe favorite) tempatnya sudah lumayan berubah tataan yang dulu hanya di hias bambu kini berubah kayu. sekarang terdapat air mancur di tengah-tengah kafe, benar-benar berbeda, dulu aku suka tempat ini karena dekat dengan pantai. Terkadang aku dan adit berteriak di tepian sambil melepas balon yang biasa di jual dekat kafe tersebut.

“hei, kei.. jangan heran ini sudah mengalami  5 kali perubahan sejak kamu pergi, mulai dari kursi yang mulai banyak, pintu depan yang ada gapuranya, terdapat di google map, lalu lampu yang menyorot ke arah kita dan air mancur tapi satu lagi yang gak kalah menarik tuh pelayannya cantik-cantik”
“hahhah.. ku kira kita berjauhan membuatmu tambah dewasa ya, eh kelakuan jorok matamu tetap berlaku ya” (sambil mencubit lengannya)
“ kei sakit tau, iya kei aku akan tetap sama tetap teman yang selalu ada buat kamu hahah”
“kagak usah ceriwis menggodaku aku bukan pelayan yang di sana”
“ hahaha iya lupa kamu keira si ratu jomblo hahaha..”
“ adit..” ( mulai mengejarnya dari ujung pantai sampai ke ujung lainnya lalu aku mulai bergandengan tangan dengan adit seolah hal itu sudah lumrah di lakukan dan duduk di salah satu meja yang menghadap ke pantai )
“ kei..”
“ iya, dit”
“gimana kesanmu saat di hongkong, apa kamu akan balik lagi ke sana”
“ o, iya aku lupa cerita sama kamu, aku melakukan perpindahan kerja kesini, aku memiliki kantor pribadi, cabang dari hongkong daerahnya di tengah kota kok, jadi kita gak akan repot berjauhan dit, beruntunglah aku proposal pengajuan untuk membuat cabang disini di setujui perusahaan sana"
“ makasih kei, karena aku akan membutuhkanmu lebih banyak lagi”
“ pasti ngerepotin”
“ hahha... iya seperti inilah kei keadaannya, aku butuh kamu yang tahu mauku tanpa aku harus mengutarakannya”( selama 2 jam lebih kita saling melemparkan pertanyan, cerita pengalaman, saling senyum, saling membalas cubitan.  sampai lupa bahwa waktu menunjukkan jam 11 malam)
“ sudah larut malam kita harus pulang esok kau harus ke rumah atau aku yang kerumahmu”
“ aturlah besok”
“ ada yang salahkah?”
“ tidak kei, tidak sama sekali, aku hanya berfikiran takut saja aku masih belum bisa mengatur waktu”
“ okey aku tahu jawabannya”
“ ah..  jangan risau kei, aku mengusahakannya”
“tenang aja, aku percaya kok”
Akhirnya aku mulai pulang dengan rasa senang, seperti biasa seperjalanan pulang aku masih mengobrol dengan leluconan yang tak pernah penting untuk dibicarakan sesekali saling menatap bintang serasa saja malam itu tak ingin berakhir begitu saja.
~~
.

Esoknya aku mulai menata ruangan baru untuk praktek desainku, ruangannya termodifikasi seperti layar luar angkasa, warna hitam mencolok menjadi kesan alam seketika. Aku menyukainya karena langit adalah tempat keluhnya para gemintang, bulan, matahari sampai pada planet lainnya. Aku ingin ruangan ini juga menjadi tempat keluh kesahku semisal tugas dan rutinas lelah mulai mengembun di kepalaku, aku memang orang yang membutuhkan tempat seperti ini sesekali mengadu pada langit yang tetap mengedipkan cahayanya tanpa ku minta. Di sebelah kanan meja komputerku terdapat alat musik piano dan gitar yang menggoda untuk kumainkan. Lalu di setiap temboknya kuhiasi dengan papan yang biasa kupakai sebagai target, lalu raknya ku pilih rak gantung untuk beberapa bukuku. Ah.. akhirnya dekorasinya telah selesai dengan suara burung hantu menyerngat di telingaku mengartikan malam telah tiba, tataannya mulai sesuai selera lalu lelah membuatku untuk pulang. Aku mulai berpamitan pada rekan kerja yang lainnya. Hari ini memang hanya sebatas perkenalan dan penataan ruangan, aku bukan orang yang suka mengatur semua sesuai seleraku aku memberi kepercayaan pada setiap staff untuk mulai mendekornya sesuai keinginan mereka. Setelah berpamitan aku mulai menyalakan motorku, ah tiba-tiba saja aku kesal menyalakannya yang tak bisa berdengung itu artinya aku membutuhkan orang lain untuk membantuku memperbaikinya. Aku muali kembali ke kantor tapi ternyata kebanyakan dari mereka telah pilang hanya tertinggal ibuk-ibuk OB yang mengepel ruangan dan lima perempuan yang sedang menunggu taksi mereka telah memberi pernyataan bahwa mereka tidak bisa membantu dan tak ada satupun temannya yang bisa dihubungi sedang satu orang hp.nya mati. Okay akhirnya aku mulai menegcheck hp.ku dan aku hanya menemukan nomer adit yang dari indonesia. Adit mulai mengangkatnya.

“ hallo adit, aku minta tolong donk”
“ kenapa kei?”
“ aku lagi di tempat kerjaku yang baru, sekarang aku mau pulang tapi mobilku tiba-tiba mogok”
“ gimana ya kei, kayaknya aku gak bisa kesana, aku telfon tukang bengkel aja ya?”
“ iya dit gak papa”
“ok, tungguin ya bentar”
“ iya dit”

Aku telah menunggu sembari duduk menikmati pohon besar di depan kantor yang kian melambai menunjukkan bahwa angin mulai mengusap tubuhnya, aku juga merasakan lembutnya angin sehingga aku menyimpulkannya dingin. Sudah 15 menit aku menunggunya entah awan telah berubah bentuk berapa kalinya sembari melihatku merenung. 

   Tiba-tiba ada motor yang mengagetkanku lewat begitu saja di tempatku, aku tak mempermasalahkannya namun ada yang berbeda motornya sepertinya ku kenal, helmnya sepertinya tak asing, baju berkerah warna biru berlapis putih di bagian pergelangannya lalu celana cingkrang warna hitam membuatku terlalu mengenalnya, ku ikuti laju motornya ternyata disana ada perempuan sedang menunggunya, perempuan itu memakai dress abu-abu sepanjang lutut, rambutnya di urai ada jepitan pelangi di sebelah kanan rambutnya, wajahnya tidak terlalu terlihat. Keduanya saling bertatap lama lalu menghilang, dan bersamaan dengan perginya mereka bapak tua menghampiriku ternyata beliau tukang bengkel suruhan adit. Aku terus melamunkan hasil potretanku barusan kedua orang itu benarkah aku mengenal keduanya, aku mulai bertanya-tanya siapakah mereka yang membuatku tak ada hentinya memikirkannya. Selang 15 menit bapak bengkel telah selesai, akupun mulai beranjak pulang di tengah perjalanan aku masih memikirkannya, jika iya orang tadi adalah dia, mengapa sebegitu teganya, ada hubungan apa mereka, kenapa aku begitu mengkhawatirkannya. Sampai pada akhirnya aku mulai sadar bahwa pagar rumah telah di depan mata. Aku beranjak untuk membuka pintu namun di ruang tamu ada seseorang lelaki memakai pakain persis seperti lelaki tadi yang aku temui, aku tak pernah mengerti mengapa candaan kali ini bersifat mengelabuiku.

“ adit.. sudah lama” sapaku
“ tidak aku baru sampai, gimana keadaanmu?”
“baik..”
“kantormu di sana?”
“ iya kenapa?”
“ tak apa, aku bisa mampir kapan-kapan ya”
“ ok. Ku tunggu. Sudah terlalu malam sebaiknya kau pulang, aku baik-baik saja dit”
“ok, kei aku pulang duluan, bundaaa aku pamit ya”
Bunda keluar dari ruang baca lalu tersenyum sambil mengangguk, setelah adit berlalu bunda menghampiriku.
“ ada apa kei? Adakah sesuatu yang sedang kau fikirkan”
“ tidak bunda, kenapa bunda sangat perhatian padaku. Aku baik-baik saja, sudahlah aku harus istirahat, lelah sekali rasanya ketika berada di kantor dan tekena mogok”
“ bunda ini bukan anak kecil yang bisa kau kelabui, katakanlah.. kau tak biasanya seperti ini, dingin pada adit, appa benar kau senang melihat percakapan singkat tadi.”
“ aku tak ingin membahasnya bunda, aku ingin merebahkan tubuhku untuk melupakan hari ini”
~~
.
Hari itu telah berlalalu, suasana hatiku sudah mulai membaik mungkin kemarin salah orang saja dan meskipun benar adit hanyalah sahabatku, sekarang saatnya hirup udara baru meneriaki embun yang masih terpancar di depan kantorku. Tapi tidak ku sangka nyatanya aku bertemu kejadian yang sama aku melihat lelaki itu lagi saat aku keluar dari mobil, mata lelaki itu melihatku lalu menemuiku, aku tetap meneguhkan dirik jika itu bukanlah adit.
“kei..
“aku harus masuk kantor dulu.”
“tunggu kei( sambil menarik tanganku yang membuatku enggan menolaknya)”
“ kei aku ingin memperkenalkan dia kepadamu, sebenarnya malam ini aku ingin memperkenalkannya tapi kamu sudah melihtnya sebelumnya, dia kekasihku yang selama ini mengisi hariku, kita akan merencanakan menikah 2 bulan lagi. Kamu harus menjadi peran utama agar pernikahan ini sukses”
“ oh ya bagus dong kalau gitu, hy aku keira, salam kenal ya”
“ hy kei, aku rani dulu aku adik kelasmu, mungkin kau tak mengingatnya, salam kenal juga aku bahagia ternyata aku bisa berkenalan juga dengan sahabatnya adit”
“ oh iya aku juga, maaf ya aku bukannya tidak ingin melanjutkan obrolan kita, tapi aku ada urusan mendesak di kantor, nanti kita bisa ke cafee bareng ya”
“ iya kei gak papa, semoga kerjaanmu terselesa dengan baik”
“okay makasih”
Percakapan tersebut memang telah terselesaikan dengan senyuman namun intisarinya sangat menguat ada perasaan kecewa yang datang bersebrangan mencuil nadiku, aku memikirkannya sampai rehatpun tak bisa. Dulu aku adalah orang pertama yang kau antar ke sekolah setelah pacarmu, kau juga rela mutusin pacarmu demi aku tapi kini waktu telah berubah pacarmu adalah prioritasmu, aku sadar terlalu sadar bagaimana sakit itu mulai menyuruhku membeku aku melihat sahabatku mendekat dan tertawa lepas bersama orang lain. Mungkin aku posesif tapi apa dayaku inilah aku yang merasa pacaranmu telah merusak pershabatan kita. Aku tidak pernah menyangka jika seorang yang aku percaya mulai membuatku menangis untuk pertama kalinya. Gelisahku perkara apa aku pun tak mengerti.
~
“ kei.. kamu kenapa murung begitu, air matamu sampai lupa hadirnya bunda di sini”
“ bunda”( aku memeluk bunda untuk melampiaskan arti kesalku, aku bingung memulainya)
“ bunda disini kei.. bunda kira kamu sedang sibuk ternyata kau sedang merasa sakit seperti ini, tenangkan kamu lalu kau bercerita jika kau mau, jika tidak tak apa bunda akan disini, hari ini bunda malas menunggumu di rumah ingin sekali kesini, mungkin tuhan menyuruh bunda untuk menghiburmu kali ini”
“ iya bunda, maafkan kei untuk saat ini kei belum bisa mengatakannya. Bolehkah aku meminjam pundakmu bunda”
“boleh, kei”
Seharian ini aku hanya menangis bersama bunda, pergi ke luar untuk menghibur diri padahal semua itu tak menghiburku, pada akhirnya aku pulang ke rumah untuk istirahat, di sampingku bunda siap memelukku seperti selimut yang siap menghangatkan kala dingin.
~
.
Pagi ini aku terbangun sangat lelah kupikir bahwa aku akan lupa akan kejadian itu namun tak mengapa semua itu tertata rapi meskipun aku telah memejamkan mata.
“kei, kamu udah bangun , sepertinya hari ini kamu harus dandan cantik karena kamu di undang sama adit buat ke pergi melamar pacarnya itu yang kerja di sebelah kantormu, kam tau kan. Nih undangannya” tersentak aku dengan ucapan bunda, tanpa ku sadari airmataku telah lunglai terlebih dahulu berbicarapun aku kaku, sehingga bunda mengerti apa yang terjadi aku kesal tak bisa menahan diri di hadapan bunda.
“  jadi ini yang membuatmu seperti ini kei, seharusnya jika kamu menganggapnya dia sahabat kau akan bahagia namun jika seperti ini kau harus jujur dengan perasaanmu bahwa itu lebih dari sekedar sahabat. Hari ini kamu sudah tahu akibat akan egomu yang selalu berpura-pura biasa saja padahal kau benar-benar jatuh cinta, jadi jadikan ini pelajaran berhargamu bahwa tak ada salahnya mengakui perasaanmu sendiri karena waktu tak selalu berpihak padamu nak” (sambil memelukku erat) aku tak bisa berkata apapun hanya menangis saja. 
pertanyaanku adalah benarkah aku jatuh cinta pada sahabatku?, bukankah aku hanya menganggapnya sahabat?, namun kenapa aku merasa sakit sekali saat mendengarnya bersama orang lain. Bunda benar ini adalah pelajaran beharga bagiku bahwa aku harus mengakui perasaanku tidak hanya berbelit pada lingkaran yang tak pasti, adit pernah menyatakan perasaanya lewat symbol yang sebenarnya aku mengerti namun aku selalu pura-pura tak paham. Aku yang selalu menekankan pada adit bahwa kita sahabat, tapi nyatanya aku telah telat mengakui perasaanku, aku telat mengalahkan egoku sendiri setelah orang yang kucintai bersama orang lain.

No comments:

Post a Comment

“SEUTAS PESAN UNTUK PENGHIRUP UDARA”

-selamat atas perkenalannya lalu dengarkanlah pesanku untukmu Sang penghirup udara-             “Mas daniel, apakah kutipan ini asl...