.
.
.
Hari
itu serasa embun mulai memberingas masuk ke sudut jendela membuatku sadar hari
ini masih buta, terlalu pagi untuk ku sentuh lamunan tentang tempat ini, tempat
yang sudah lama ku tingggalkan, tempat yang ku rasa masih berbekas sebekas ucap
dan kenang yang selalu jadi modernisasi ucapan anak remaja. (kring..kring
telepon bergetar) beriringan dengan nadanya
membuat kacau lamunan, eh ternyata orang yang ku tunggu menelpon juga.
“ hy kei..
gimana? Udah di rumah?”
“iya dit
aku sudah memeluk boneka beruang, itu berarti aku sudah menginap di rumah, khawatir
banget lu”
“ gak gitu
kei, aku takut kamu jadi amnesia setelah lama di hongkong, nanti kamu nyasar, eh tapi gak papa sih kalau kamu nyasar kan lucu tuh bisa jadi hot topic “
“ woyy kamu
kira ini permainan petak umpet, omnganm gak pernah berubah ayo ketemu aku sudah gak sabar menonjokmu, lama
aku tak bersua sama orang yang sering nelpon satu menit buat tanya kamu sehat
kei?, habis itu udah dimatiin, sumpeh ngeselin banget”
“hahhah..
aku tuh gak mau kalik gangguin kamu yang sedang asyik bersua di negeri orang
jadi tanya kabar sudah cukup kei.., gini-gini kamu kangen kan”
“ iya
kangen.. kangen nonjok, ayo dit aku udah siap, kamu kesini apa kita ketemu di
tempat biasa”
“ katemu di
tempat biasa aja kei”
~`
~`
( setelah
di kafe favorite) tempatnya sudah lumayan berubah tataan yang dulu hanya di
hias bambu kini berubah kayu. sekarang terdapat air mancur di tengah-tengah kafe, benar-benar berbeda, dulu aku suka tempat ini karena dekat dengan pantai. Terkadang aku dan adit
berteriak di tepian sambil melepas balon yang biasa di jual dekat kafe
tersebut.
“hei, kei..
jangan heran ini sudah mengalami 5 kali
perubahan sejak kamu pergi, mulai dari kursi yang mulai banyak, pintu depan
yang ada gapuranya, terdapat di google map, lalu lampu yang menyorot ke arah
kita dan air mancur tapi satu lagi yang gak kalah menarik tuh pelayannya
cantik-cantik”
“hahhah..
ku kira kita berjauhan membuatmu tambah dewasa ya, eh kelakuan jorok matamu tetap
berlaku ya” (sambil mencubit lengannya)
“ kei sakit
tau, iya kei aku akan tetap sama tetap teman yang selalu ada buat kamu hahah”
“kagak usah
ceriwis menggodaku aku bukan pelayan yang di sana”
“ hahaha
iya lupa kamu keira si ratu jomblo hahaha..”
“ adit..” (
mulai mengejarnya dari ujung pantai sampai ke ujung lainnya lalu aku mulai bergandengan tangan dengan adit seolah hal itu sudah lumrah di lakukan dan duduk di salah satu meja yang menghadap ke pantai )
“ kei..”
“ iya, dit”
“gimana
kesanmu saat di hongkong, apa kamu akan balik lagi ke sana”
“ o, iya
aku lupa cerita sama kamu, aku melakukan perpindahan kerja kesini, aku memiliki kantor pribadi, cabang dari hongkong daerahnya di tengah kota kok, jadi kita gak akan repot berjauhan dit, beruntunglah aku proposal pengajuan untuk membuat cabang disini di setujui perusahaan sana"
“ makasih
kei, karena aku akan membutuhkanmu lebih banyak lagi”
“ pasti
ngerepotin”
“ hahha...
iya seperti inilah kei keadaannya, aku butuh kamu yang tahu mauku tanpa aku harus mengutarakannya”( selama 2 jam lebih kita saling melemparkan pertanyan, cerita pengalaman, saling senyum, saling membalas cubitan. sampai lupa bahwa waktu menunjukkan jam 11 malam)
“ sudah
larut malam kita harus pulang esok kau harus ke rumah atau aku yang kerumahmu”
“ aturlah
besok”
“ ada yang
salahkah?”
“ tidak
kei, tidak sama sekali, aku hanya berfikiran takut saja aku masih belum bisa
mengatur waktu”
“ okey aku
tahu jawabannya”
“ ah.. jangan risau kei, aku mengusahakannya”
“tenang
aja, aku percaya kok”
Akhirnya
aku mulai pulang dengan rasa senang, seperti biasa seperjalanan pulang aku
masih mengobrol dengan leluconan yang tak pernah penting untuk dibicarakan
sesekali saling menatap bintang serasa saja malam itu tak ingin berakhir begitu
saja.
~~
.
~~
.
Esoknya aku
mulai menata ruangan baru untuk praktek desainku, ruangannya termodifikasi
seperti layar luar angkasa, warna hitam mencolok menjadi kesan alam seketika.
Aku menyukainya karena langit adalah tempat keluhnya para gemintang, bulan,
matahari sampai pada planet lainnya. Aku ingin ruangan ini juga menjadi tempat
keluh kesahku semisal tugas dan rutinas lelah mulai mengembun di kepalaku, aku
memang orang yang membutuhkan tempat seperti ini sesekali mengadu pada langit
yang tetap mengedipkan cahayanya tanpa ku minta. Di sebelah kanan meja
komputerku terdapat alat musik piano dan gitar yang menggoda untuk kumainkan.
Lalu di setiap temboknya kuhiasi dengan papan yang biasa kupakai sebagai
target, lalu raknya ku pilih rak gantung untuk beberapa bukuku. Ah.. akhirnya dekorasinya
telah selesai dengan suara burung hantu menyerngat di telingaku mengartikan
malam telah tiba, tataannya mulai sesuai selera lalu lelah membuatku untuk
pulang. Aku mulai berpamitan pada rekan kerja yang lainnya. Hari ini memang
hanya sebatas perkenalan dan penataan ruangan, aku bukan orang yang suka
mengatur semua sesuai seleraku aku memberi kepercayaan pada setiap staff untuk
mulai mendekornya sesuai keinginan mereka. Setelah berpamitan aku mulai
menyalakan motorku, ah tiba-tiba saja aku kesal menyalakannya yang tak bisa
berdengung itu artinya aku membutuhkan orang lain untuk membantuku
memperbaikinya. Aku muali kembali ke kantor tapi ternyata kebanyakan dari
mereka telah pilang hanya tertinggal ibuk-ibuk OB yang mengepel ruangan dan
lima perempuan yang sedang menunggu taksi mereka telah memberi pernyataan bahwa
mereka tidak bisa membantu dan tak ada satupun temannya yang bisa dihubungi
sedang satu orang hp.nya mati. Okay akhirnya aku mulai menegcheck hp.ku dan aku
hanya menemukan nomer adit yang dari indonesia. Adit mulai mengangkatnya.
“ hallo
adit, aku minta tolong donk”
“ kenapa
kei?”
“ aku lagi
di tempat kerjaku yang baru, sekarang aku mau pulang tapi mobilku tiba-tiba
mogok”
“ gimana ya
kei, kayaknya aku gak bisa kesana, aku telfon tukang bengkel aja ya?”
“ iya dit
gak papa”
“ok,
tungguin ya bentar”
“ iya dit”
Aku telah
menunggu sembari duduk menikmati pohon besar di depan kantor yang kian melambai
menunjukkan bahwa angin mulai mengusap tubuhnya, aku juga merasakan lembutnya
angin sehingga aku menyimpulkannya dingin. Sudah 15 menit aku menunggunya entah
awan telah berubah bentuk berapa kalinya sembari melihatku merenung.
Tiba-tiba ada motor yang mengagetkanku lewat begitu saja di tempatku, aku tak mempermasalahkannya namun ada yang berbeda motornya sepertinya ku kenal, helmnya sepertinya tak asing, baju berkerah warna biru berlapis putih di bagian pergelangannya lalu celana cingkrang warna hitam membuatku terlalu mengenalnya, ku ikuti laju motornya ternyata disana ada perempuan sedang menunggunya, perempuan itu memakai dress abu-abu sepanjang lutut, rambutnya di urai ada jepitan pelangi di sebelah kanan rambutnya, wajahnya tidak terlalu terlihat. Keduanya saling bertatap lama lalu menghilang, dan bersamaan dengan perginya mereka bapak tua menghampiriku ternyata beliau tukang bengkel suruhan adit. Aku terus melamunkan hasil potretanku barusan kedua orang itu benarkah aku mengenal keduanya, aku mulai bertanya-tanya siapakah mereka yang membuatku tak ada hentinya memikirkannya. Selang 15 menit bapak bengkel telah selesai, akupun mulai beranjak pulang di tengah perjalanan aku masih memikirkannya, jika iya orang tadi adalah dia, mengapa sebegitu teganya, ada hubungan apa mereka, kenapa aku begitu mengkhawatirkannya. Sampai pada akhirnya aku mulai sadar bahwa pagar rumah telah di depan mata. Aku beranjak untuk membuka pintu namun di ruang tamu ada seseorang lelaki memakai pakain persis seperti lelaki tadi yang aku temui, aku tak pernah mengerti mengapa candaan kali ini bersifat mengelabuiku.
Tiba-tiba ada motor yang mengagetkanku lewat begitu saja di tempatku, aku tak mempermasalahkannya namun ada yang berbeda motornya sepertinya ku kenal, helmnya sepertinya tak asing, baju berkerah warna biru berlapis putih di bagian pergelangannya lalu celana cingkrang warna hitam membuatku terlalu mengenalnya, ku ikuti laju motornya ternyata disana ada perempuan sedang menunggunya, perempuan itu memakai dress abu-abu sepanjang lutut, rambutnya di urai ada jepitan pelangi di sebelah kanan rambutnya, wajahnya tidak terlalu terlihat. Keduanya saling bertatap lama lalu menghilang, dan bersamaan dengan perginya mereka bapak tua menghampiriku ternyata beliau tukang bengkel suruhan adit. Aku terus melamunkan hasil potretanku barusan kedua orang itu benarkah aku mengenal keduanya, aku mulai bertanya-tanya siapakah mereka yang membuatku tak ada hentinya memikirkannya. Selang 15 menit bapak bengkel telah selesai, akupun mulai beranjak pulang di tengah perjalanan aku masih memikirkannya, jika iya orang tadi adalah dia, mengapa sebegitu teganya, ada hubungan apa mereka, kenapa aku begitu mengkhawatirkannya. Sampai pada akhirnya aku mulai sadar bahwa pagar rumah telah di depan mata. Aku beranjak untuk membuka pintu namun di ruang tamu ada seseorang lelaki memakai pakain persis seperti lelaki tadi yang aku temui, aku tak pernah mengerti mengapa candaan kali ini bersifat mengelabuiku.
“ adit..
sudah lama” sapaku
“ tidak aku
baru sampai, gimana keadaanmu?”
“baik..”
“kantormu
di sana?”
“ iya
kenapa?”
“ tak apa,
aku bisa mampir kapan-kapan ya”
“ ok. Ku tunggu.
Sudah terlalu malam sebaiknya kau pulang, aku baik-baik saja dit”
“ok, kei
aku pulang duluan, bundaaa aku pamit ya”
Bunda
keluar dari ruang baca lalu tersenyum sambil mengangguk, setelah adit berlalu
bunda menghampiriku.
“ ada apa
kei? Adakah sesuatu yang sedang kau fikirkan”
“ tidak
bunda, kenapa bunda sangat perhatian padaku. Aku baik-baik saja, sudahlah aku
harus istirahat, lelah sekali rasanya ketika berada di kantor dan tekena mogok”
“ bunda ini
bukan anak kecil yang bisa kau kelabui, katakanlah.. kau tak biasanya seperti
ini, dingin pada adit, appa benar kau senang melihat percakapan singkat tadi.”
“ aku tak
ingin membahasnya bunda, aku ingin merebahkan tubuhku untuk melupakan hari ini”
~~
.
~~
.
Hari itu
telah berlalalu, suasana hatiku sudah mulai membaik mungkin kemarin salah orang
saja dan meskipun benar adit hanyalah sahabatku, sekarang saatnya hirup udara
baru meneriaki embun yang masih terpancar di depan kantorku. Tapi tidak ku
sangka nyatanya aku bertemu kejadian yang sama aku melihat lelaki itu lagi saat
aku keluar dari mobil, mata lelaki itu melihatku lalu menemuiku, aku tetap
meneguhkan dirik jika itu bukanlah adit.
“kei..
“aku harus
masuk kantor dulu.”
“tunggu
kei( sambil menarik tanganku yang membuatku enggan menolaknya)”
“ kei aku
ingin memperkenalkan dia kepadamu, sebenarnya malam ini aku ingin
memperkenalkannya tapi kamu sudah melihtnya sebelumnya, dia kekasihku yang
selama ini mengisi hariku, kita akan merencanakan menikah 2 bulan lagi. Kamu
harus menjadi peran utama agar pernikahan ini sukses”
“ oh ya
bagus dong kalau gitu, hy aku keira, salam kenal ya”
“ hy kei,
aku rani dulu aku adik kelasmu, mungkin kau tak mengingatnya, salam kenal juga
aku bahagia ternyata aku bisa berkenalan juga dengan sahabatnya adit”
“ oh iya
aku juga, maaf ya aku bukannya tidak ingin melanjutkan obrolan kita, tapi aku
ada urusan mendesak di kantor, nanti kita bisa ke cafee bareng ya”
“ iya kei
gak papa, semoga kerjaanmu terselesa dengan baik”
“okay
makasih”
Percakapan tersebut
memang telah terselesaikan dengan senyuman namun intisarinya sangat menguat ada
perasaan kecewa yang datang bersebrangan mencuil nadiku, aku memikirkannya
sampai rehatpun tak bisa. Dulu aku adalah orang pertama yang kau antar ke
sekolah setelah pacarmu, kau juga rela mutusin pacarmu demi aku tapi kini waktu
telah berubah pacarmu adalah prioritasmu, aku sadar terlalu sadar bagaimana
sakit itu mulai menyuruhku membeku aku melihat sahabatku mendekat dan tertawa
lepas bersama orang lain. Mungkin aku posesif tapi apa dayaku inilah aku yang
merasa pacaranmu telah merusak pershabatan kita. Aku tidak pernah menyangka
jika seorang yang aku percaya mulai membuatku menangis untuk pertama kalinya. Gelisahku
perkara apa aku pun tak mengerti.
~
~
“ kei..
kamu kenapa murung begitu, air matamu sampai lupa hadirnya bunda di sini”
“ bunda”(
aku memeluk bunda untuk melampiaskan arti kesalku, aku bingung memulainya)
“ bunda
disini kei.. bunda kira kamu sedang sibuk ternyata kau sedang merasa sakit
seperti ini, tenangkan kamu lalu kau bercerita jika kau mau, jika tidak tak apa
bunda akan disini, hari ini bunda malas menunggumu di rumah ingin sekali
kesini, mungkin tuhan menyuruh bunda untuk menghiburmu kali ini”
“ iya
bunda, maafkan kei untuk saat ini kei belum bisa mengatakannya. Bolehkah aku
meminjam pundakmu bunda”
“boleh, kei”
Seharian ini
aku hanya menangis bersama bunda, pergi ke luar untuk menghibur diri padahal
semua itu tak menghiburku, pada akhirnya aku pulang ke rumah untuk istirahat, di
sampingku bunda siap memelukku seperti selimut yang siap menghangatkan kala
dingin.
~
.
~
.
Pagi ini
aku terbangun sangat lelah kupikir bahwa aku akan lupa akan kejadian itu namun
tak mengapa semua itu tertata rapi meskipun aku telah memejamkan mata.
“kei, kamu
udah bangun , sepertinya hari ini kamu harus dandan cantik karena kamu di
undang sama adit buat ke pergi melamar pacarnya itu yang kerja di sebelah
kantormu, kam tau kan. Nih undangannya” tersentak aku dengan ucapan bunda,
tanpa ku sadari airmataku telah lunglai terlebih dahulu berbicarapun aku kaku, sehingga
bunda mengerti apa yang terjadi aku kesal tak bisa menahan diri di hadapan
bunda.
“ jadi ini yang membuatmu seperti ini kei,
seharusnya jika kamu menganggapnya dia sahabat kau akan bahagia namun jika
seperti ini kau harus jujur dengan perasaanmu bahwa itu lebih dari sekedar
sahabat. Hari ini kamu sudah tahu akibat akan egomu yang selalu berpura-pura
biasa saja padahal kau benar-benar jatuh cinta, jadi jadikan ini pelajaran
berhargamu bahwa tak ada salahnya mengakui perasaanmu sendiri karena waktu tak
selalu berpihak padamu nak” (sambil memelukku erat) aku tak bisa berkata apapun
hanya menangis saja.
pertanyaanku adalah benarkah aku jatuh cinta pada sahabatku?, bukankah aku hanya menganggapnya sahabat?, namun kenapa aku merasa sakit sekali saat mendengarnya bersama orang lain. Bunda benar ini adalah pelajaran beharga bagiku bahwa aku harus mengakui perasaanku tidak hanya berbelit pada lingkaran yang tak pasti, adit pernah menyatakan perasaanya lewat symbol yang sebenarnya aku mengerti namun aku selalu pura-pura tak paham. Aku yang selalu menekankan pada adit bahwa kita sahabat, tapi nyatanya aku telah telat mengakui perasaanku, aku telat mengalahkan egoku sendiri setelah orang yang kucintai bersama orang lain.
pertanyaanku adalah benarkah aku jatuh cinta pada sahabatku?, bukankah aku hanya menganggapnya sahabat?, namun kenapa aku merasa sakit sekali saat mendengarnya bersama orang lain. Bunda benar ini adalah pelajaran beharga bagiku bahwa aku harus mengakui perasaanku tidak hanya berbelit pada lingkaran yang tak pasti, adit pernah menyatakan perasaanya lewat symbol yang sebenarnya aku mengerti namun aku selalu pura-pura tak paham. Aku yang selalu menekankan pada adit bahwa kita sahabat, tapi nyatanya aku telah telat mengakui perasaanku, aku telat mengalahkan egoku sendiri setelah orang yang kucintai bersama orang lain.
No comments:
Post a Comment